Refleksi : Saat Facebook, Instagram dan Whatsapp Down

Tanggal 4 Oktober malam, setelah mungkin sebagian dari kita masih terbangun dan beraktifitas di dunia maya, tiba-tiba saja beberapa aplikasi terasa melambat. Hal ini terjadi pada aplikasi instagram dan whatsapp, yang juga merupakan masih dalam satu perusahaan dengan facebook. Berikut ini adalah ulasan dalam sudut pandang kolaborasi masyarakat digital, saat facebook, Instagram dan whatsapp down.

Facebook, Instagram dan Whatsapp Down

Pukul 20.30 WIB, adalah terakhir kali saya membuka dan membaca setiap pesan di aplikasi Whatsapp. Setelah itu saya memutuskan untuk tidur, tanpa menyadari di belahan dunia yang lainnya telah terjadi kepanikan. Whatsapp Down!

Pukul 02.30 WIB saya baru menyadari kalau instagram dan whatsapp down setelah tidak ada perubahan informasi dalam kedua aplikasi tersebut. Status dan pesan seolah-olah berhenti di jam tepat saat saya tertidur, begitupun dengan konten terakhir yang saya lihat di instagram. Satu-satunya informasi yang valid yang saya dapatkan adalah dari twitter, dimana akun resmi dari aplikasi-aplikasi tersebut menginformasikan kondisi servernya pada saat itu.

Di tempat kerja, kondisi menjadi tema perbincangan yang hangat di antara kami. Sebagian dari kami mengira karena habis kuota atau gangguan sinyal dan jaringan. Begitupun, di platform lain yang tidak mengalami gangguan serupa, seperti twitter dan telegram.

Kondisi ini menjadi sebuah gambaran, bagaimana pengaruh keberadaan aplikasi sebagai bagian dari teknologi informasi dan komunikasi pada saat ini. Banyak sektor yang akhirnya merugi, seperti pada sektor pendidikan dan ekonomi.

Kapitalisme ala Apple

Hari ini kita pasti menyadari kalau aplikasi-aplikasi yang mengalami gangguan ini memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan kita. Entah kita sebagai guru dan pelajar yang menggunakan platform whatsapp sebagai media pembelajaran, berbagi tugas, diskusi, dan yang lain sebagainya. Begitupun dengan pelaku bisnis yang menggunakan aplikasi untuk menjalankan sistem bisnisnya.

Besarnya pengaruh dari keberadaan aplikasi ini semakin terasa ketika terjadi gangguan secara masal atau down seperti ini. Akan tetapi timbul pertanyaan yang cukup menggelitik, kenapa kita harus begitu terpengaruh dan bergantung pada aplikasi-aplikasi ini ?

Di hari yang sama, saya menemukan satu artikel lain dari kanal berita tirto yang menceritakan bagaimana seorang mendiang Steve Jobs menjalankan perusahaan aplikasinya. Dan ada satu kutipan menarik pada artikel tersebut.

Kapitalisme sejak lama berprinsip menyediakan barang-barang yang diinginkan pasar dengan modal yang sangat ketat dan keuntungan yang setinggi mungkin. Perusahaan-perusahaan kapitalis lama meneliti kemauan pasar dengan melihat apa yang diinginkan konsumen. Namun, Steve Jobs menggunakan pendekatan yang berbeda. Ia dianggap mengubah tujuan perusahaan kapitalis lama untuk “memberi pasar apa yang mereka mau” menjadi “memberi pasar apa yang kita mau mereka beli”.
Dengan kata lain, Jobs membentuk perusahaan untuk berpikir bahwa mereka harus menentukan tren. Jobs mendorong penciptaan fitur-fitur yang sekiranya “akan dibutuhkan” konsumen. Inovasi yang terus diperbaharui kemudian secara tidak langsung membuat konsumen terus menerus “membutuhkan” produk baru. Dari sisi bisnis, inovasi Jobs adalah terobosan luar biasa dalam kapitalisme. Namun, pemikiran itu bertendensi menciptakan “kebutuhan-kebutuhan baru” pada sisi konsumen yang label “kebutuhan”-nya patut dipertanyakan.

Baca selengkapnya di artikel “Steve Jobs dan Perkembangan Kapitalisme Apple”, https://tirto.id/gj2P

Whatsapp dan Bisnis

Dalam konsep yang sama, meski dalam sistem yang berbeda, hal ini sepertinya turut menjadi pedoman dalam sistem yang dimiliki oleh seorang Mark Zuckerberg dalam menjalankan Facebook dan turunannya.
Hal ini bisa kita telaah dari dua artikel terbitan cnn pada hari ini terkait status down yang terjadi pada facebook, instagram dan whatsapp hari ini.
Sekali lagi, hal ini senada seperti penjelasan di atas, bahwa sebagian besar ada yang merasa terganggu dengan terjadinya kondisi ini. Dampak kerugian yang terjadi selain secara moril juga bisa terjadi secara materil. Saya melihat di salah satu status WA kontak yang menceritakan, akibat whatsapp yang down, terjadi gangguan pada aktifitas transaksi dengan pelanggan.
Begitupun dengan siswa-siswa yang pada saat itu sedang mengerjakan tugas, dengan platform whatsapp sebagai media file sharing nya. Akhirnya beberapa siswa jadi tidak bisa mengirim tugas, dan apesnya karena gurunya tidak tahu kalau WA sedang down, jadilah siswa tersebut mendapat nilai yang kecil.
Tapi pada akhirnya, berbicara soal bisnis, bukan semata tentang pelanggan atau konsumen yang membutuhkan. Bukan hanya masalah sebesar dan sebanyak apa konsumen yang membutuhkan, akan tetapi juga tingkat kepercayaan.
Dalam level makro, dengan terjadinya gangguan ini, tingkat kepercayaan publik menurun. Hal ini terlihat dari anjloknya nilai saham facebook hanya dalam kurun waktu beberapa jam sejak gangguan ini terjadi.
Artikel CNN Indonesia “Facebook Down, Mark Zuckerberg Rugi Rp99 T” selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20211005072054-185-703379/facebook-down-mark-zuckerberg-rugi-rp99-t.Demikian artikel kali ini, semoga kita bisa menyadari keterikatan kita dengan teknologi bisa melahirkan sebuah nilai positif dan manfaat setidaknya pada diri kita sendiri.

kanghadad Written by:

Guru Informatika di SMP IT Baitul Ilmi, Content Creator, Praktisi IT dan Penulis

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *