Sejarah Computational Thinking

Sebenarnya, pelajaran informatika tidak terbatas hanya seputar materi komputer saja. Penggunaan komputer hanya bagian kecil dari kecakapan dan keterampilan dalam menghadapi masa depan. Berbagai terobosan teknologi, komputerisasi, serta konsep algoritma dan pengolahan data mengharuskan masyarakat hadir dengan kesiapan pola pikir dan karakter. Dari sejarah Computational thinking inilah, akhirnya kita akan menyadari bahwa masa depan bukan hanya soal kecanggihan teknologi saja.

Sejarah Computational Thinking

Pada tahun 1980, Seymour Papert menulis sebuah buku yang berjudul mindstorm. Buku ini berisi tentang sudut pandang penggunaan komputer bagi anak dan pengaruhnya di masa depan. Dan melalui buku inilah istilah Computational Thinking mulai diperkenalkan.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa ilmu yang mendasari lahirnya komputer ini adalah matematika. Menariknya di buku Mindstorm ini juga terdapat pembahasan tentang hubungan antara matematika dan konsep berfikir. Oleh karena itu, saya seringkali memperkenalkan Computational Thinking ini adalah sebuah cara berhitung matematis tapi tanpa angka. Menarik bukan ?

Satu bab yang menarik dalam buku Mindstorm ini adalah “Mathopobia : The Fear of Learning”. Dan ini memang seperti sebuah masalah yang terjadi dimana-mana, fakta bahwa anak-anak terkadang takut dengan mata pelajaran matematika, padahal ini adalah sebuah konsep ilmu yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan. Baik, sederhananya buku “Mindstorm” ini adalah jembatan penghubung antara konsep berfikir matematis dan komputer dalam kehidupan.

Kemudian, Computational Thinking ini lahir kembali melalui konsep yang dikembangkan oleh Jeanette M. Wing. Berfikir komputasi adalah sebuah kebutuhan dan keterampilan dasar untuk semua orang beriringan dengan proses membaca, menulis dan berhitung. Dunia menyambut konsep pemikiran Jeanette M. Wing ini, dan mulai mengimplementasikan pada setiap kurikulum di masing-masing negara.

Tahun 2012, Inggris mulai menerapkan mata pelajaran Computer Science dengan materi Computational Thinking di dalamnya. Sementara itu berbagai negara dalam kurun waktu yang sama pun mulai mengajarkan dan memasukan materi Computational Thinking pada kurikulum pendidikannya. Tercatat, China, Amerika Serikat, Selandia Baru, Korea Selatan, Australia, hingga Finlandia mulai menerapkan materi tentang Computational Thinking ini. Sementara Singapura, bahkan sampai mencanangkan sebuah konsep “Smart Nation” dengan pemahaman Computational Thinking sebagai “Kemampuan Nasional”.

Latar Belakang

Matematika telah mengantarkan peradaban dunia ke gerbang kemajuan teknologi di setiap masanya. Mulai dari kehidupan pra-sejarah hingga saat ini, matematika hadir menjadi solusi dalam berbagai permasalahan yang ada. Oleh karena itu, untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi atau bahkan menjadi salah satu bagian dari seorang inovator peradaban, maka kita membutuhkan masyarakat yang mampu berfikir secara matematis.

Baca Juga : Sejarah Teknologi Informasi dan Komunikasi

Secara bahasa Computational Thinking ini adalah teknik berfikir dengan perhitungan matematis. Sehingga beberapa pakar berpendapat, bahwa Computational Thinking adalah modal untuk mengantarkan masyarakat ke peradaban yang lebih modern di masa yang akan datang. Modal ini penting untuk dipelajari dan diajarkan dalam dunia pendidikan sebagai garda terdepan dalam pencetakan generasi masa depan.

Namun tak perlu jauh-jauh untuk merasakan dampak positif dan manfaat dari computational thinking ini. Semakin menguasai materi tentang computational thinking, hidup dan aktfiitas seseorang akan menjadi lebih efisien dan efektif sehingga bisa meningkatkan produktifitas pada kehidupan. Dan tentu saja, kebutuhan tentang computational thinking akan semakin meningkat seiring dengan kecanggihan komputer dan gadget yang ada di sekitar kita.

Pada materi-materi selanjutnya kita akan membahas secara ber-seri, contoh soal dan penerapan serta manfaatnya pada kehidupan. Demikian materi dan informasi tentang sejarah Computational Thinkiong dan latar belakangnya, semoga bermanfaat.

kanghadad Written by:

Guru Informatika di SMP IT Baitul Ilmi, Content Creator, Praktisi IT dan Penulis

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *