Rasanya topik tentang ini seringkali diangkat dan didengungkan ketika memasuki bulan Muharram. Hal ini tidak terlepas dari peristiwa besar di masa Rasulullah SAW yang melaksanakan prosesi hijrah dari kota Mekkah ke Yatsrib yang kemudian hari berubah nama menjadi Kota Madinah atau Madinatunnabi (Kota Nabi). Lantas tepatkah jika topik dan obrolan tentang hijrah ini didengungkan ketika hanya ketika Muharram saja ? Nah inilah momentum.

Pembahasan hijrah memang bukan milik bulan Muharram saja, tidak seperti bulan Ramadhan yang memiliki kekhususan dalam ibadah shaum, sehingga shaum di bulan-bulan lain nilainya tidak seperti pada bulan Ramadhan, tetapi Muharram memiliki catatan historis yang spesial, yaitu peristiwa hijrahnya nabi, dan itulah Momentum.

Makna Hijrah

Makna hijrah adalah perubahan dari perpindahan dari yang tadinya kurang baik menjadi baik, atau tadinya baik menjadi lebih baik. Hal ini tentu bisa dilakukan kapan saja, asalkan berniat dan mau pasti akan ada jalannya. Hijrah pun menjadi sebuah kecenderungan bagi seorang muslim yang mesti dilakukan setiap hari, banyak para ulama yang meriwayatkan tentang nasihat, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Maka aktifitas hijrah ini bisa kita lakukan tanpa mengenal waktu, tempat dan situasi atau kondisi lainnya. Asal ada niat (yang terdorong dari hidayah), maka hijrah itu bisa dilaksanakan kapan saja.

Masalahnya adalah secara manusiawi, seringkali kita mempertanyakan apa sih motivasi dari hijrah ? Secara pribadi, saya menganggap bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah celah yang sedang coba dimainkan oleh Syetan. Mengapa demikian ? karena hijrah itu pasti didorong dari kesadaran bahwa kita sedang dalam posisi yang kurang baik, dan syetan pasti berusaha agar kita tetap terjerembab dan terjebak disana.

Dalam kondisi tertentu, terkadang celah yang dimainkan syetan itu terlampau besar dan kuat, sementara niat dan kondisi kita terlampau lemah, yang pada akhirnya proses hijrah pun menjadi goyah. Maka dalam kondisi ini kita butuh Momentum.

Ilustrasi Hijrah

 

Berhenti Sejenak

Hijrah itu seperti anak panah yang melesat menuju titik target yang telah ditentukan, agar kekuatan, jarak tempuh dan mampu mencapai titik target tersebut, maka kita sebuah busur yang tepat. Momentum adalah busur yang digunakan untuk menembak anak panah itu.

Momentum adalah sebuah kondisi yang dirasakan tepat untuk melakukan sesuatu. tepat disini bisa diartikan dengan kondisi jiwa yang penuh semangat dan antusias, perbekalan harta yang cukup, kesempatan yang datang setelah dinanti begitu lama, atau bisa jadi untuk menghindari ancaman nyata yang ada di depan mata. Inilah momentum, sebuah kondisi yang pada akhirnya akan memacu aksi yang harus kita lakukan.

Momentum yang tepat akan menghasilkan sebuah aksi yang optimal dan maksimal. Begitupun dengan perubahan dan hijrah yang kita lakukan, dengan momentum yang tepat maka hijrah yang kita lakukan akan terasa sangat bermakna.

Bagaimana jika momentum itu tidak kunjung datang ? jika memang seperti itu, maka kita harus menciptakan momentum. Bagaimana bisa ? kembali lagi, tergantung niat dan motivasi kita dalam melakukan sebuah kegiatan. Momentum bisa diciptakan dan diperkuat, sekaligus dalam waktu yang sama, celah yang dimanfaatkan syetan akan mengecil dan melemah.

Masalahnya adalah, bagaimana kalau ternyata, momentum itu ada dan hadir di sekitar kita, tapi kita tidak menyadarinya. Jika kita masih dalam topik tentang hijrah, masih dalam topik tentang perubahan dari kondisi yang kurang baik menjadi lenbih baik, maka beristighfarlah. Kita tidak tahu dosa apa sampai, mata kita tertutup dari kesadaran momentum akan berubah menjadi lebih baik.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Leave a comment

Sign in to post your comment or sign-up if you don't have any account.