“bangun.. bangun..!!” teriak demi teriakan bersahutan beriringan dengan gedoran pada kaca jendela ruang kelas tempat kami tidur. Dengan sigap, anggota pramuka yang lebih senior sudah siap dengan pakaian dan segala atributnya, Kak Agun masuk ruangan dan menyuruh para anggota Pramuka tersebut untuk keluar dan berkumpul di lapangan.

“bukan.. bukan kalian.. kalian tidur lagi aja..” Kak Agun menatap kami yang masih kucek-kucek mata. “Nanti saja kalian mah bangun nya subuh..” Lanjut Kak Agun sambil berlalu meninggalkan kami. Entah jam berapa itu, tapi saya masih tetap belum terlelap gara-gara foto presiden itu. huh.

Giat Malam khas Pramuka : Jurit Malam

Sepanjang menjadi anggota aktif di Kepramukaan, kegiatan jurit malam ini tidak aneh. Saya pernah jadi peserta, pernah jadi panitia, bahkan pernah juga sekedar iseng jagain pos buat jail. hehe.

Jurit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perang, jadi situasi ini memang benar-benar didesain agar terlihat seperti suasana perang. Harus bangun ditengah malam, kemudian bergerak dengan penuh kehati-hatian, siap menghadapi berbagai tantangan dan sergapan. Yang menarik adalah, lepas 20 tahun kemudian dari kisah ini, saya baru paham makna sebenarnya dari jurit malam.

Bagi saya pribadi, jurit malam adalah sebuah skenario untuk menekan kondisi fisik dan mental seorang anggota Pramuka, sampai potensi aslinya keluar. Dengan kondisi terdesak, mungkin sudah menjadi naluri manusia untuk mengeluarkan segenap potensinya. Seperti saat di kejar anjing, katanya kecepatan lari kita akan jauh berlipat-lipat dibandingkan saat lari joging biasa.

Lambat laun, jurit malam ini saya seringkali anggap hanya sebuah game yang menantang. Kenapa ? seberat apapun kondisinya, semencekam apapun skenarionya, toh ini hanya sebuah acara yang pasti berakhir (Spoiler. hehe) . Akan tetapi, game ini sarat penuh makna dan simbolis, itu yang menjadikan saya pun senang mengikutinya.

Kembali ke cerita, menjelang subuh anggota pramuka yang mengikuti jurit malam sudah kembali ke ruang tempat tidur. Mereka terlihat begitu ceria, saling menertawakan mengingat momen tegang yang baru mereka lalui, sementara kami masih berusaha bangun dan menyegarkan badan, khususnya saya setelah sekian lama tertekan dengan foto presiden yang menggelantung itu. Tapi satu hal yang membuat saya penasaran, se-menyenangkan itukah ?

Telor Dadar

Kembali sebagai anak bawang, kami mendapat tugas baru yaitu menyiapkan sarapan. Menunya adalah telor dadar. Saya lupa dari mana nasinya, tapi yang jelas tugas nya cuma itu.

Beberapa saat saya melamun, menatap beberapa butir telor yang ada. Pada saat itu, mungkin usia saya sekitar 10 atau 11 tahun, dan selama itu juga saya belum pernah mecahin telor. “Kumaha carana ?”

Akhirnya, setelah sekian lama merenung dan menyiapkan diri serta mental, diambilah satu butir telor. Pelan-pelan saya ketukan ke meja, dan tidak ada apapun yang terjadi. “kurang tarik jigana..”, saya tambah lagi energi untuk mengetukan telor ke meja, dan masih belum menghasilkan tanda-tanda telor akan terbuka. Dan ketika saya coba lagi dengan sedikit agak keras.. braakk !!!

Seketika lantai penuh dengan isi telor yang berhamburan menetes kemana-mana. “Elap mana elaaappp..!” teriak saya panik.

Singkat cerita, satu piring telor dadar sudah siap. Anggota pramuka yang baru melaksanakan giat pagi, langsung menyerbu tempat makan yang sudah kami siapkan. Mereka dengan lahap menyantap hidangan yang ada. Akan tetapi, tidak butuh waktu lama mereka langsung menatap saya, dengan sedikit mengerenyitkan kening, mereka bertanya,”di uyahan teu ?” (dikasih garam gak ?)

Leave a comment

Sign in to post your comment or sign-up if you don't have any account.