Kecakapan umum pada golongan penegak terdiri dari dua tingkatan yaitu Bantara dan Laksana. Kedua tingkatan kecakapan umum ini adalah tanda dan bentuk penyiapan lain agar karakter menjadi semakin dewasa. Setelah pelantikan Bantara, kami dihadapkan pada pelantikan khas ambalan untuk kecakapan Laksana. Kami menyebutnya, perjalanan Laksana.

Tugas untuk melaksanakan ujian kenaikan kecakapan umum tingkat Laksana ini hanya berselang beberapa bulan setelah kami dilantik dan dikukuhkan sebagai pengurus Dewan Ambalan. Salah satu ujian poin yang diujikan dalam Syarat Kecakapan Umum (SKU) adalah melakukan perjalanan selama 3 hari dengan berjalan kaki.

Dapat melakukan pengembaraan selama 3 hari dan atau mengatur kehidupan perkemahan selama minimal 3 hari. Itu adalah bunyi poin yang harus kami laksanakan dalam SKU. Untuk memenuhi syarat itu kami akan melakukan perjalanan sejauh 90 Km dengan berjalan kaki. Kantor Polsek Tanggeung adalah titik awal perjalanan yang kemudian akan berakhir di ambalan. Pemilihan rute ini merupakan adat ambalan, yang sudah dilakukan selama beberapa angkatan sebelumnya. Sementara untuk ambalan putri ditugaskan untuk beraktifitas mengatur dan membantu pekerjaan di kantor pemerintahan setempat.

Perjalanan Laksana, Latihan Beradaptasi

Perjalanan ini dilakukan selama 3 hari, dengan titik-titik peristirahatan yang sudah ditentukan. Penempatan check point ini tentu bukan tanpa alasan. Titik peristirahatan kami yang pertama adalah, Sukanagara, titik kedua Cilaku, dan titik terakhir tentu adalah ambalan. Diantara ketiga titik tersebut kami menghadapi tiga karakter masyarkat yang berbeda-beda.

Titik Tanggeung – Sukanagara adalah titik yang paling nyaman, banyak penduduk yang ramah dan bersimpati pada kami. Banyak diantaranya dengan mulai memberi bekal, sekedar mengobrol berbagi kisah, atau pun meminta bantuan pada kami, dan tentu saja kami sangat senang membantunya. Titik Sukanagara – Cilaku adalah titik terberat bagi kami, dalam kondisi tubuh yang mulai lelah, ada beberapa yang mulai mencemooh, menghina, bahkan memprovokasi. Terakhir, titik Cilaku – Pacet, dimana sebagian besar dari masyarakat yang kami lewati seakan tak peduli dengan keberadaan kami, masing-masing sibuk dengan aktifitasnya.

Baru beberapa tahun setelah lulus saya paham dengan berbagai karakter masyarakat tersebut. Ada teori bahwa ketiga titik tersebut merupakan gambaran dari tiga karakter masyarakat di Indonesia, ada masyarakat desa yang ramah, tradisional, menjunjung tinggi adab dan sopan-santun. Kemudian ada pula masyarakat urban yang merupakan perlihan dari masyarakat desa ke kota, akibat dari perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Karakter pada masyarakat urban ini memang dikenal lebih agresif. Terakhir, masyarakat kota, karakter masyarakat yang seperti tak pernah tidur, sibuk dengan aktifitasnya sehingga terkadang memunculkan karakter yang lebih egois. Ada anekdot yang menggambarkan karakter masyarakat ini, “Lihat saja ukuran pagarnya..”

Selepas perjalanan ini, saya memahami bahwa pada akhirnya kami akan bertualang dan mengembara pada kehidupan dan nasib kami masing-masing. Mungkin ada yang kembali ke Desa, mungkin juga merantau ke kota, atau mungkin masuk ka daerah berkembang dalam masyarkat urban. Intinya, dimana pun itu, kami harus siap.

Leave a comment

Sign in to post your comment or sign-up if you don't have any account.