Memoar Pramuka #25 : Pelantikan Penegak Bantara

Hampir 10 bulan kami menyandang status sebagai calon penegak bantara dan tibalah kini saatnya pelantikan. Entah ini adalah pelantikan yang ke berapa yang saya ikuti, di Pramuka saja mungkin sudah hampir 6 kali, belum di ekstrakurikuler lain. Komsep dan format pelantikan tidak jauh berbeda, hal ini menjadikan saya sudah tidak terlalu kaget dengan berbagai acara pelantikan.Yang jelas pelantikan selalu saya maknai sebagai peralihan, begitupun kali ini.

Dengan selesainya pelantikan bantara ini, maka kami secara sah sudah menjadi anggota Pramuka Golongan Penegak. Peralihan ini adalah tantangan, karena atmosfer latihan Pramuka akan benar-benar berbeda. Tugas pertama kami sebagai anggota pramuka penegak adalah menganalisa kepengurusan Dewan Ambalan berikutnya.

Penegak Bantara, Bicara dan Bertanggung Jawab

Ternyata, alasan kami terus dilatih berargumentasi dan berani berbicara adalah karena makna bantara itu sendiri. Bantara diartikan sebagai pidato atau berbicara yang kemudian harus bisa dipertanggung jawabkan. Ini masuk akal jika dikaitkan dengan pendidikan kami yang sudah dikategorikan sebagai anggota pramuka dewasa. Setiap kata-kata yang keluar, baik secara lisan maupun tulisan, harus bisa kami pertanggung jawabkan.

Makna berikutnya dari bantara, dan merupakan makna yang paling lazim adalah bahwa bantara sebenarnya diambil dari bahasa sensakerta. Bantara berarti pengawal, atau bisa jadi akronim dari Bala Tentara. Kemudian pengertian ini dikaitkan dengan pemaknaan berdasarkan sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana Penegak Bantara di umpamakan sebagai pengawal kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hal ini berarti bantara adalah bala tentara yang mengantarkan Negara Indonesia menuju negara yang mandiri dan berdaulat.

Apapun pemaknaannya, pelantikan bantara adalah prosesi peralihan menuju dewasa yang dengan segala kondisinya harus dihadapi dengan satu kata, “Siap !”.

Dalam musyawarah awal, kepengurusan Dewan Ambalan sudah merencanakan bahwa saya yang kelak akan menjadi Pradana. Musyawarah itu berdasarkan rekomendasi, dan hasil voting dari seluruh anggota aktif Pramuka Ambalan. Akan tetapi, kepengurusan OSIS menetapkan kebijakan lain, saya ditarik menjadi Ketua OSIS, sementara jabatan Pradana diserahkan ke anggota yang lain, yaitu Yusuf Rustandi.

Yusuf Rustandi didapuk menjadi Pradana, Anjar Abdurrahman menjadi Kerani, Zeni menjadi Juang, Abdul Wahab jadi Juru Adat, Didan Al Fauzi menjadi LitEv dan saya sendiri menjadi LitBang. Kepengurusan kami adalah angkatan 21 dari urutan kepengurusan Ambalan, sehingga kami pun mendeklarasikan kepengurusan kami sebagai Rakanda 21.

kanghadad Written by:

Guru Informatika di SMP IT Baitul Ilmi, Content Creator, Praktisi IT dan Penulis

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *