Memoar Pramuka #19 : Terakhir dari Jambore Nasional

Satu pekan tidak terasa, tiba-tiba Jambore Nasional sudah di penghujung acara dengan acara terakhir yaitu Upacara Penutupan. Jambore Nasional ditandai dengan pemanggilan kembali kami para petugas upacara dari masing-masing kontingen untuk mempersiapkan Upacara Penutupan, 2 hari sebelum dilaksanakan.

Jambore Nasional memberikan pengalaman yang menarik dimana semua hal baru saya dapatkan disini. Mulai dari pengetahuan tentang kendaraan sepeda motor (yang saya baru bisa pakainya saja setelah menikah.. hehe..), teman yang berbeda agama yang justru paling rajin mengingatkan saya tentang sholat, pertama kalinya melihat kawah tangkuban parahu, dan yang lainnya.

Cerita terakhir, yang dikira tak akan berakhir

Saya masih ingat betul, momen ketika pertama kali datang ke Sekolah MTsN Ciherang seusai Jambore Nasional. Tiba-tiba Kepala Sekolah memanggil saya ditengah upacara dan menyuruh saya menyampaikan kesan selama kegiatan disana.

“Saya kira, saya tidak akan pulang…” itu adalah kalimat yang paling saya ingat pada saat itu. Sambil menahan isak tangis, yang bagi saya itu menggambarkan kebahagiaan telah diberikan kesempatan yang luar biasa seperti itu.

Memang pengalaman selama 3 pekan tersebut adalah salah satu bagian hidup terbaik yang mengubah pandangan saya. Bagaimana pembelajaran dan latihan tidak bisa dibatasi hanya didalam kelas, pangkalan dan lapangan yang terbatas, materi kehidupan justru bisa jauh lebih luas jika kita bertualang menembus berbagai batas.

Saya teringat dalam satu kelurahan di Bumi Perkemahan kami terdiri dari teman-teman yang berasal dari Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Sumatera dan Aceh. Setiap beberapa malam sekali kami berkumpul untuk berdiskusi atau sekedar saling mengunjungi dan betapa hangat persaudaraan itu. Belum teman seperjalanan yang berasal dari Morowali, Sulawesi Tenggara yang begitu akrab dan hangat. Teman satu regu dari Bali, Nusa Tenggara Timur dan Jogjakarta.

Ya selanjutnya saya harus kembali beraktifitas seperti biasa dan menyelesaikan tugas sebagai ketua OSIS masa jabatan 2005-2006. Kembali ke pangkalan tempat saya belajar dan berlatih Pramuka seperti biasa.

Terakhir, ada cerita lucu saat upacara penutupan dilaksanakan, saya tidak melihat petugas dari TVRI yang mendata nama-nama petugas. Acara berjalan sukses tanpa kendala, ditutup oleh Ketua Kwartir Nasional. Setelah upacara selesai saya ditelpon kembali oleh orang tua dirumah.

“Dad, ngibarkeun deui ? Naha asa beda ?” ternyata nama saya disebut kembali oleh penyiar di TVRI secara langsung, padahal orangnya berbeda.

<<Selengkapnya>>

kanghadad Written by:

Guru Informatika di SMP IT Baitul Ilmi, Content Creator, Praktisi IT dan Penulis

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *