Memoar Pramuka #17 : Berlatih menjadi yang terbaik

Latihan khusus dan pemusatan untuk pelaksanaan Upacara Pembukaan dan Penutupan Jamnas 2006 sudah dimulai. Sejak 2 pekan sebelum pelaksanaan Jamnas kami sudah dikumpulkan dan di karantina di Kampus IPDN Jatinangor. Kebetulan pada saat itu kampus sedang agak sepi, karena mahasiswa tingkat 1 sedang mengadakan praktik lapangan, sehingga lingkungan kampus banyak yang kosong. Citra IPDN yang dulu sempat terkesan menyeramkan, justru adalah tempat berkesan yang menyenangkan, karena disinilah saya mendapatkan inspirasi untuk menjadi yang terbaik.

Para pelatih dan panitia Upacara sebagian besarnya berasal dari Mahasiswa IPDN tingkat 2 yang dibantu pula oleh beberapa pengajar IPDN, dan tentu saja dari Kwartir Daerah. Kami dibimbing mulai dari penyiapan fisik sampai keterampilan baris berbaris. Seringkali disela-sela jam istirahat, kami dibuat kagum oleh berbagai cerita para pelatih yang menceritakan aktifiitas harian mereka selama di IPDN, atau sekedar latar belakang mereka yang hebat-hebat.

Untuk menjadi yang terbaik harus belajar dari yang terbaik

“Kalau kalian mau jadi orang sukses, tahap awal cari orang yang serupa dengan karakter itu di sekitar kalian, mungkin bisa jadi itu adalah orang tua, guru, kakak pembina, atau mungkin salah satu dari kami, maka dekati dia, tiru setiap tindakannya, maka kamu akan sukses seperti dia..” itu sepenggal kalimat yang masih saya ingat, meski dengan redaksi yang berbeda tentunya. Saya rasa kalimatnya lebih santai dari ini hehe. Tapi itulah yang sampai saat ini saya ingat.

Jika dulu, saya memang bercita-cita menjadi yang terbaik, hari ini saya mendapatkan ilmu praktisnya. Ternyata menjadi yang terbaik atau sukses itu gampang, selama ada orang seperti itu di sekitar kita. Nah yang jadi masalah adalah saat disekitar kita tidak ada orang seperti itu, maka pilihannya ada dua, belajar dari referensi lain yang mungkin akan lebih lama, atau pindah (Hijrah).

Perjalanan kisah ini pun tidak luput dari orang-orang hebat yang menginspirasi saya. Bahkan dalam cerita berikutnya (selepas Jamnas) saya menerapkan tips ini dan memang beberapa berhasil saya lakukan. Yang jelas pelatihan dan karantina di IPDN ini adalah titik momentum yang paling berkesan yang pernah saya rasakan.

Setelah 2 pekan tak terasa terlewati, dengan berbagai kondisi suka duka karena ini adalah pengalaman pertama dan terlama jauh dari orang tua. Akhirnya waktu yang dinanti pun tiba, kami siap untuk melaksanakan pengibaran bendera Jamnas pada perhelatan Upacara Pembukaan Jambore Nasional 2006. Bumi Perkemahan Kiara Payung akan menjadi lokasi kami melaksanakan Upacara, dengan disiarkan live oleh TVRI, dan yang paling membahagiakan adalah, Pembina Upacaranya adalah Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono !

<<Selengkapnya>>

kanghadad Written by:

Guru Informatika di SMP IT Baitul Ilmi, Content Creator, Praktisi IT dan Penulis

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *