Memasuki jenjang SMP saya berfikir untuk berhenti sepenuhnya dari Pramuka. Rasanya sudah bosan jika harus latihan baris-berbaris, jadi petugas upacara, latihan menghafal materi tekpram dan yang lainnya. Apalagi kalau dihadapkan dengan acar pelantikan untuk menguji fisik dan mental, ah sudah males rasanya. Saya ingin mencoba tantangan baru, dan petualangan baru yaitu OSIS.

Sayangnya, pendaftaran anggota OSIS baru dibuka sekitar bulan november, jadi ada waktu 4 bulan menganggur. Sejak dari SD saya memang tidak terbiasa dengan waktu kosong yang entah di isi apa. Kegiatan di bulan-bulan awal masuk SMP tidak ada kegiatan khusus dan langsung pulang. Begitupun ketika memasuki bulan agustus, yang biasanya di isi dengan keikut sertaan saya di acara perkemahan ULATAKA, kali ini pun harus absen dan hanya bisa menyaksikan teman-teman saya berangkat dengan jumlah yang luar biasa banyak, 5 regu putra dan 5 regu putri !

Petualangan Baru, Kembali ke Pramuka

Saya sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Ciherang, sebuah sekolah yang terkenal legendaris dalam organisasi Pramuka. Saya baru mengenal sejarah Pramuka MTsN Ciherang yang luar biasa itu setelah mengobrol langsung dengan pembina Pramuka, Pak Miftah Supriatna.

Kembalinya saya ke Pramuka pun tidak lepas dari sentuhan beliau menceritakan kehebatan Pramuka MTsN Ciherang yang dikenal sebagai pelopor Pramuka di Kecamatan Pacet. Hal itu terbukti dengan nomor Gugus Depan 001 – 002, yang menandai kalau MTsN Ciherang adalah Gugus Depan pertama yang diakui oleh Kwartir Cabang di Kecamatan Pacet.

Begitupun dengan cerita-cerita beliau selama di Pramuka dan tokoh-tokoh kenalan beliau, yang bagi saya mereka semua adalah legenda. Beliau adalah salah seorang guru senior di MTsN Ciherang, berbeda dengan Kak Agun di SDN Jayagiri yang berusia masih muda, Pak Miftah berusia agak sepuh namun penuh kharisma khas Pembina Pramuka. Beliau adalah salah satu legenda Pramuka bagi saya. Dan saya mulai tertarik kembali, dan terfikir bagaimana saya menjadi salah satu legenda yang bisa dikenang ?

“Ges nepi mana dad di Pramuka ? (Sudah sampai mana di Pramuka ?).” Suatu hari tegur Pak Miftah.

“Rakit Pak..” Saya agak malu menjawabnya, karena status saya yang memutuskan untuk berhenti Pramuka.

“Kagok atuh.. lanjutkeun kana terap.. sugan we menang Garuda (Tanggung atuh, lanjutkan ke terap, barangkali aja dapat Garuda)” Ajak Pak Miftah.

Saya terbengong-bengong, Garuda ?

<<Selengkapnya>>

Leave a comment

Sign in to post your comment or sign-up if you don't have any account.