Kisah Pengingkaran orang Musyrik pada Peristiwa isra Miraj

Pertengahan bulan februari kemarin, perseverance resmi mendarat di tanah mars. Meski bukan robot pertama yang mendarat di mars, akan tetapi NASA dan dunia menganggap ini adalah sebuah pencapaian dan fenomena umat manusia terbaik tahun ini. Beberapa waktu yang akan datang kita pun akan menyaksikan perjalanan lain yang akan menjelajah luar angkasa. Tercatat Tiongkok dan Uni emirat Arab, masing-masing sudah menerbangkan pesawat luar angkasanya. 14 abad yang lalu penjelajahan dan perjalanan serupa terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW, namun tidak sedikit orang-orang musyrik mengingkari peristiwa isra miraj ini.

Peristiwa isra mi’raj adalah salah satu peristiwa dan mukjizat yang luar biasa, terjadi pada Nabi Muhammad SAW. Hakikat peristiwa Isra Mi’raj ini adalah sebagai bentuk pemuliaan Allah terhadap kekasih-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Isra dan Mi’raj terjadi setelah dua orang yang senantiasa hadir di samping Nabi wafat. Mereka adalah Sang Paman, Abu Thalib dan Isteri yang selama ini menemani dan mendukung perjuangan beliau, Khadijah.

Belum lagi, tekanan demi tekanan yang orang-orang musyrik terhadap usaha dakwah Nabi dan kaum Muslmin. Sebagian dari para sahabat pun tekah melaksanakan hijrah ke Habasyah, sementara Nabi yang tengah berdakwah di Thaif pun mendapat hadangan yang keras. Semua peristiwa ini membuat Nabi sedih, sehingga seringkali disebut sebagai tahun Amul Huzni atau tahun kesedihan.

Peristiwa Isra Miraj

Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad yang terjadi pada malam hari dari Mekkah ke Masjidil Aqsha, Palestina. Sementara Mi’raj adalah naiknya Nabi Muhammad dari Masjidl Aqsha ke langit, sampai ke Sidratul Muntaha. Dua perjalanan ini terjadi atas izin dan kuasa Allah SWT. Dari peristiwa Isra mi’raj ini kemudian turunlah perintah melaksanakan Sholat yang pelaksanaanya adalah sebanyak 5 kali dalam sehari.

Pertistiwa luar biasa yang membingkai perintah inilah yang kemudian menunjukan betapa agungnya keutamaan Sholat. Disamping itu, ditampakan pula berbagai pemandangan neraka dan syurga, serta berbagai perumpamaan-perumpamaan lain yang begitu besar dan dalam maknanya. Bagi kita, sebagai umat Nabi Muhammad SAW wajib untuk mengambil hikmah sebesar-besarnya dalam peristiwa yang agung nan luar biasa ini. Maka, penting untuk memperingati sebagai pengingat dan penguat keimanan kita. Dikala berbagai fitnah dan ujian diakhir zaman yang terus menggerus benteng keimanan.

Begitupun yang terjadi seusai perjalanan agung ini, masyarakat di sekitar Nabi Muhammad terbagi menjadi dua kelompok. Mereka yang beriman yang lantas percaya, meyakini dan membenarkan semua yang di kisahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kelompok yang kedua adalah orang-orang musyrik yang justru membantah dan malah memperolok-olok Nabi Muhammad SAW, meski telah nampak berbagai bukti yang nyata.

Pengingkaran Peristiwa Isra Mi’raj

Dalam Kitab Musnad Ahmad No. 2680 menggambarkan situasi esok harinya setelah peristiwa isra dan mi’raj,

Adalah Abu Jahal orang yang pertama menemui Nabi, pagi hari setelah peristiwa Isra Mi’raj dilaksanakan. Niat Abu Jahal pada saat itu dan pada setiap harinya adalah untuk memperolok Nabi,

sumber : pixabay.com

“Apakah ada yang terjadi ?” Tanya Abu Jahal pada Nabi Muhammad yang tengah duduk sendirian di sekitar Ka’bah.

” Ya..”

“Apa itu?”

Nabi menjawab: “aku telah diisra`kan tadi malam.”

Ia bertanya; “kemana?”

beliau menjawab: “Ke Baitul Maqdis.”

Ia bertanya lagi; “Kemudian pagi ini engkau telah berada di tengah-tengah kami?”

beliau menjawab: “Ya.”

“Bagaimana menurutmu jika aku memanggil kaummu lalu engkau ceritakan kepada mereka apa yang telah engkau ceritakan kepadaku?”

beliau menjawab: “Ya.”

Maka abu jahal berseru; “wahai sekalian Bani Ka’b bin Lu`ai!”

maka majlis menjadi membludak dan mereka pada datang dan berkerumun di sekeliling dua orang tersebut, kemudian abu jahal berkata;

“ceritakan kepada kaummu seperti apa yang telah engkau ceritakan kepadaku.”

Maka Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: “sesungguhnya aku di isra`kan tadi malam.” Mereka bertanya; “kemana?” beliau menjawab; “ke Baitul Maqdis, ” mereka berkata: “kemudian kamu pagi-pagi sudah berada di tengah-tengah kami?” beliau menjawab; “ya”

Ibnu Abbas berkata; diantara mereka ada yang bertepuk tangan dan ada juga meletakkan tangannya di kepala karena terkesima dan sebagai bentuk pendustaan mereka terhadap apa yang di klaim (Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam),

kemudian mereka berkata; “apakah kamu bisa memberikan Gambaran kepada kami tentang kondisi masjid?” dan diantara kaum ada yang telah mengadakan perjalanan ke negri tersebut dan telah melihat masjid.

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa sallam menuturkan; “maka akupun mensifati masjid, dan aku masih tetap memberikan Gambaran sampai akhirnya beberapa Gambaran menjadi samar bagiku, ” beliau melanjutkan; “kemudian di datangkan pemandangan masjid (dihadapanku), sehingga aku dapat melihatnya, sampai-sampai tempat sebelum dar ‘Iqal atau ‘Uqail dapat aku gambarkan dan aku dapat melihatnya.” Beliau melanjutkan; “dan aku meski dapat menggambarkan kondisi masjid, tetapi aku tidak dapat menghafalnya.”

Ibnu Abbas berkata; “maka kaum itu akhirnya berkata; “demi Allah, penggambaran dia (terhadap masjid) sangatlah tepat.”

sumber : pixabay.com

Sebuah Sikap yang berulang

Bukan hanya pada peristiwa Isra Miraj, seakan ingin mengingatkan kita tentang karakter orang-orang musyrik. Setiap zaman dari para Nabi, senantiasa terjadi pertentangan terhadap yang Haq dan Bathil. Dan orang-orang yang berdiri pada kebathilan selalu berdiri pada sandaran yang tidak kokoh, rapuh, dan tidak berlogika. Pada akhirnya, orang-orang ini tidak sanggup menerima kebenaran, meskipun bukti nyata sudah didepan mata.

Kita mengetahui bagaimana kaum Nabi Nuh yang kemudian tenggelam oleh air bah, ironis nya, bahkan putranya sendiri menolak ajakan keselamatan sekalipun dalam kondisi kritis. Kaum Nabi Shaleh yang malah membunuh Unta Betina yang merupakan mukjizat pada saat itu. Fir’aun yang dengan berbagai musibah dan teguran yang menimpanya berkali-kali bahkan tetap membangkang kenabian Musa as. Pengulangan peristiwa itu pun sampai kepada Nabi Muhammad SAW, yang meski telah tampak berbagai mukjizat yang luar biasa, orang-orang musyrik tetap menolaknya.

Begitupun pada peristiwa Isra miraj ini, bagaimana orang-orang musyrik malah mengolok-olok Nabi Muhammad SAW. Sebagian lagi malah menantang dengan membuat pertanyaan-pertanyaan yang menguji keabsahan kisah Nabi. Akan tetapi, meskipun berbagai tantangan dan pertanyaan itu telah terjawab, orang-orang musyrik tetap menolak kebenaran. Inilah hakikat dari kebodohan sebenarnya.

Dan sikap ini lagi-lagi berulang, menjadi ujian bagi kita yang beriman. Seakan-akan, tantangan, ujian, dan pertanyaan itu muncul kembali dalam bentuk yang berbeda. Pertanyaan-pertanyaan yang mempertentangkan antara ilmu pengetahuan misalnya, bagaimana hukum alam bekerja, serta pembuktian ilmiah lain seiring dengan perkembangan teknologi masa kini.

Sikap Orang Yang Beriman

Setelah peristiwa berkumpulnya orang-orang musyrik di sekitar Nabi dengan tujuan untuk mengolok-olok dan mengajukan tantangan serta pertanyaan, lantas tiba kepada kita bagaimana seharusnya seorang beriman bersikap.

Di kutip dari Hadist riwayat Al-Hakim dari kitab Al Mustadrak, Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperjalankan ke Masjidil Aqsha, maka orang-orang pun mulai memperbincangkannya. Sebagian orang yang sebelumnya beriman dan membenarkannya menjadi murtad, mereka pun datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu seraya berkata,

“Apakah engkau mengetahui kalau temanmu mengaku melakukan perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis?”

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya,

“Apakah ia mengatakan seperti itu?” “Iya”, jawabnya.

Abu Bakar berkata, “Andai ia memang mengatakan seperti itu sungguh ia benar.”

Mereka berkata, “Apakah engkau mempercayainya bahwa ia pergi semalaman ke Baitul Maqdis dan sudah kembali pada pagi harinya?”

Abu Bakar menjawab, “Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.”

Aisyah mengatakan, “Itulah mengapa beliau bergelar Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkannya.”

Begitulah gambaran sikap orang yang beriman, keyakinan terhadap berbagai mukjizat dan fenomena-fenomena luar biasa yang terjadi di sekitar Nabi itu adalah bukti bahwa Allah Maha Kuasa. Jika perseverance mampu menembus langit dan mendarat di Mars membutuhkan waktu selama 7 bulan, maka tidak mustahil bagi Allah memperjalankan Nabi Muhammad hingga ke Sidratul Muntaha lebih cepat dari itu.

Maka, memang hanya orang-orang musyrik lah yang mempertanyakan kebenaran peristiwa Isra dan Mi’raj ini.

Semoga kita senantiasa mampu menjaga kualitas keimanan kita menjadi semakin lebih baik. wallahu a’lam.

kanghadad Written by:

Guru Informatika di SMP IT Baitul Ilmi, Content Creator, Praktisi IT dan Penulis

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *