Penerapan computational thinking ini sebenarnya sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Karena konsep computational thinking beserta tahapannya sebenarnya hanya menguraikan dari konsep berpikir yang manusia lakukan sepanjang hidupnya. Kali ini kita akan melihat contoh penerapan computational thinking dalam proses bertani.

Baca Juga : Manfaat Computational Thinking

Contoh Computational Thinking dalam Proses Pertanian

Salah satu komoditas yang bernilai bagi bangsa ini adalah pertanian. Sebagai warisan dan budaya dari leluhur, teknik dan konsep pertanian berjalan sebagian masih mempertahankan konsep tradisional. Secara umum, proses pertanian baik yang tradisional maupun yang modern telah menerapkan teknik computational thinking meski secara tidak sadar.

Jika kita uraikan pekerjaan dan aktifitas dari seorang petani, maka pada dasarnya ia menggunakan konsep computational thinking. Petani yang akan kita bahas kali ini misalnya petani kebun sayuran. Mari kita perhatikan berdasarkan tahapan-tahapan computational thinking,

Dekomposisi

Sebelum melakukan penanaman, petani akan melakukan proses dekomposisi yaitu penguraian masalah besar menjadi masalah-masalah yang lebih kecil. Untuk melakukan ini, terlebih dahulu petani harus mampu melihat target dan permasalahan sebelum proses menanam. Penguraian target dan permasalahan tersebut itu akan menghasilkan informasi bagaimana caranya agar mendapat keuntungan yang besar ketika masa panen nanti.

Untuk menjawab permasalahan besar itu, petani harus menguraikannya menjadi potongan masalah yang lebih kecil. Berikut ini beberapa masalah kecil bagi petani,

  1. Bagaimana dengan kondisi tanahnya, pengolahan apa yang tepat untuk menjadikan tanah lebih subur dari biasanya ?
  2. Bagaimana dengan kondisi air, apakah tersedia air yang cukup ?
  3. Bibit tanaman apa yang cocok, dan bisa tumbuh dan berkembang secara optimal di kebun itu ?

Dan beberapa pertanyaan lain yang mungkin relevan dan berdampak pada hasil panen nantinya.

Penyebutan permasalahan kecil pada permasalahan di atas karena seiring waktu petani biasanya sudah memiliki jawaban-jawaban untuk pertanyaan tersebut. Kecuali untuk lahan yang baru, maka permasalahan kecil ini harus segera menemukan solusi agar hasil panen dan keuntungannya maksimal.

Pengenalan Pola

Salah satu pola standari bagi petani adalah bahwa kegiatan menanam tanaman di kebun berdasarkan cuaca dan musim. Seorang petani yang ahli dan berpengalaman akan dengan mudah membaca pola musim yang cocok untuk tanaman-tanaman sayuran tertentu. Sehingga dari pengenalan pola ini akan berdampak pada berkurangnya kemungkinan gagal panen.

Pola lain itu, yang turut berpengaruh dalam musim tanam sayuran adalah kondisi pasar. Sehingga petani bisa merencanakan pemilihan tanaman sayuran yang memiliki harga pasar yang tinggi yang bisa meningkatkan keuntungan di masa panen nantinya. Kemudian ada juga pola-pola lain seperti posisi tanam agar mendapat cahaya lebih baik, atau posisi bedengan agar sirkulasi air bisa maksimal.

Informasi-informasi ini adalah pola yang terus berulang, sehingga lambat laun informasi ini menjadi kebiasaan. Selain pola yang yang terus berulang, seorang petani yang baik harus senantiasa belajar untuk memperoleh informasi-informasi terbaru. Karena tidak menutup kemungkinan, akibat dari perubahan iklim, kondisi keamanan, sosial dan politik atau yang lainnya menyebabkan petanu harus meninggalkan pola lama yang telah usang. Pembaruan informasi-informasi yang terbaru akan menciptakan pola baru yang mungkin lebih efektif dan memiliki produktifitas yang lebih baik.

Abstraksi

Tahap selanjutnya adalah pemilihan informasi-informasi penting dan langsung berdampak pada hasil panen. Informasi-informasi ini adalah perolehan dari hasil penguraian pada tahap dekomposisi dan pengumpulan informasi pola. Sehingga pekerjaan dan aktifitas petani tidak memakan energi dan waktu lebih banyak.

Contoh, Petani akan menanam tanaman tomat. Hasil dari dekomposisi dan pola, serta beberapa informasi tambahan lain, petani memperoleh tips menanam tomat sebagai berikut,

  1. Tomat menyukai tanah yang hangat, bercahaya dan terdapat angin. Oleh karena itu sebaiknya letaka penanaman tomat memiliki jarak yang cukup satu sama lain.
  2. Perawatan dengan mengubur batang terbawah, serta memeriksa serta memotong daun yang paling bawah agar terhindar dari serangan jamur.
  3. Pemberian air secukupnya, karena semakin sedikit mengkonsumsi air, tomat akan menghasilkan gula lebih banyak sehingga rasanya akan semakin manis.

Dari uraian di atas bisa kita ambil keismpulan informasi bahwa tanaman tomat tidak memerlukan air yang banyak. Sehingga petani bisa mengabaikan pekerjaan untuk membuat saluran irigasi yang tentu akan memakan banyak energi.

Algoritma

Pada tahapan ini, petani mulai menyusun rencana pekerjaan yang akan dilakukan. Pekerjaan ini disusun berdasarkan skala prioritas mulai dari pekerjaan yang harus paling didahulukan sampai pekerjaan terakhir.

Secara umum tahapan berkebun tersebut mulai dari, pembibitan, penyemaian, perawatan, hingga pemanenan. Perlu diperhatikan bahwa setiap jenis tanaman memerlukan perlakuan yang berbeda-beda. Untuk menyusun algoritma yang tepat membutuhkan informasi yang cukup.

Demikian salah satu contoh penerapan computational thinking. Sekali lagi tujuan dari pembelajaran computational thinking ini adalah agar kita bisa lebih disiplin dalam berpikir, sehingga bisa menghasilkan keputusan dan solusi yang tepat.

Leave a comment

Sign in to post your comment or sign-up if you don't have any account.