“Saat ada yang menyebutkan nama kita, apa yang terbayang pada pikrian orang lain ?” itu adalah kalimat terakhir dari artikel yang saya buat 8 tahun silam. Pada blog yang lama, saya seperti terjebak identitas yang entah mau seperti apa. Berbagai acara seminar, motivasi, kajian saya ikuti pada saat itu, hanya untuk menjawab, “siapa saya ?”. Yang pada akhirnya, saya menemukan sebuah kenyataan bahwa Personal Branding adalah sebuah hal nilai yang tidak bisa kita kendalikan, kita hanya bisa merencanakan.

Baca Juga : Artikel di blog lama tentang branding

Saya pernah menjadi seorang aktifis di berbagai organisasi ketika sekolah dulu. Pernah juga menjadi seorang pedagang dengan memproduksi berbagai makanan ringan khas anak-anak. Pernah juga jadi relawan di Dompet Dhuafa. Begitupun sales kartu kredit yang meskipun bertahan cuma 2 hari saja. Dan berbagai aktifitas-aktifitas lain yang menakjubkan. Tapi berbagai aktifitas tersebut tidak serta-merta menjadikan saya fokus dalam satu bidang.

Rencanakan Personal Branding

Pada titik ini saya berfikir, bahwa sebenarnya personal branding itu hanya bisa kita rencanakan. Selebihnya, orang-orang aya ada di sekeliling kita akan menilai. Apa yang kita rencanakan, yang kita lakukan, yang kita geluti dan dalami, akan semakin sempurna dengan berbagai penilaian yang mengarah pada diri kita.

Baik, terkadang ada pandangan skeptis yang mengatakan, “just be you’re Self”. Tapi dalam pola pikir yang dewasa ini sepertinya pemikiran itu sudah tidak relevan lagi. Menjadi diri sendiri itu tidak sesederhana yang terbayang. Ada berbagai variabel lain yang bisa jadi banyak mempengaruhi proses pembentukan karakter kita. Nah, tugas dari personal branding ini adalah, menegaskan siapa kita di tengah berbagai pilihan karakter yang ada.

Baca Juga : Tentang blog ini

Hal lain yang bisa mempengaruhi tentang branding ini adalah tingkat konsistensi kita dalam mendalami atau mengerjakan sesuatu. Konsisten atau istiqomah tentu akan melahirkan berbagai keuntungan, daripada karakter yang cenderung oportunis. Orang yang ada di sekitar kita pun akan memiliki penilaian yang jelas, ajeg, dan tentunya positif (dalam artian sesuai dengan yang kita harapkan).

Branding bukan istilah lain dari sombong atau egois ya, branding ini hanyalah seperti “memaku” papan merk di tubuh kita. Nah, dengan merk inilah kita mempersilahkan orang lain untuk menilai dan berinteraksi dengan kita.

Juga tidak harus selalu bernilai dan bertujuan materi, branding bisa jadi ditujukan hanya untuk identitas sosial misalnya, atau menguatkan peran yang ada. Tetapi kembali, branding yang paling bagus ya branding yang sesuai dengan karakter kita.

Bukan juga topeng ya, branding lebih ke mengasah potensi diri sehingga lebih muncul dan dikenal.

“Jadi, siapa kamu ?”

Leave a comment

Sign in to post your comment or sign-up if you don't have any account.