0%
Posted inCatatan Refleksi

Pendidikan : Menuju Tak Terbatas dan Melampauinya

Mengawali tahun 2020, dunia dikejutkan dengan datangnya virus Corona Disease-19 atau Covid-19. Mewabahnya virus ini memaksa dunia, dan termasuk negara kita Indonesia, untuk menerapkan protokol-protokol kesehatan yang membatasi semua aktivitas kita. Hingga menjelang peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2020 kali ini, kita sedang ditengah situasi kritis bernama…

Pandemik

Pendidikan menjadi salah satu yang terkena imbas dari pandemik corona. Untuk mengantispasi penyebaran virus yang meluas ini, pemerintah melalui Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim pun memutuskan untuk menghentikan semua pembelajaran yang bersifat tatap muka dikelas, interaksi langsung dan kontak fisik yang bisa membuka celah penyebaran virus Covid-19. Lantas bagaimana dengan kegiatan belajar para siswa ? Disinilah kita mulai berkenalan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Belajar Dari Rumah (BDR), dan istilah lainnya yang mengacu pada teknis Online Learning.

Mari sejenak kita lupakan kondisi pandemik, dan kondisi-kondisi lain yang seakan-akan “memaksa” pendidikan di negera kita belajar secara online. Ya, kita harus melupakan sejenak rasa “keterpaksaan” yang pada akhirnya hanya akan menghadirkan ketidak ikhlasan, dan keluhan. Faktanya, pendidikan kita memang agak tertinggal dibandingkan negara-negara lain, khususnya dalam penerapan teknologi pembelajaran yang dinamis.

Pendidikan untuk Masa Depan

2045 adalah momentum yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia sebagai masa generasi keemasan. Dengan tajuk Indonesia Emas, Indonesia diharapkan menjadi negara maju yang sukses mengelola segala potensinya. Lantas siapakah yang bertanggung jawab atas keberhasilan program ini ? tidak lain dan tidak bukan ialah : PENDIDIKAN.

Oleh karenanya, Pendidikan di Indonesia mesti memiliki visi menuju 2045 yang menjadi ruh dalam setiap kegiatan pembelajaran pada peserta didik. Pendidik haruslah memiliki sebuah visi dan gambaran bagaimana kondisi mental dan karakter yang dibutuhkan pada 2045 ini. Kolaborasi antara Pendidikan karakter, ideologi, dan Ilmu pengetahuan serta Teknologi harus menjadi satu kesatuan yang utuh dalam membina jiwa-jiwa muda menghadapi masa yang akan datang. Pembelajaran Jarak Jauh adalah sebuah kondisi yang tidak bisa dihindari menghadapi fenomena Pendidikan di masa depan

Mari Berubah

Dalam pemaparan sederhana ini maka sejatinya mesti ada dua rasa yang harus di aktifasi dalam kegiatan pembelajaran kita.

  • Menyenangkan

Guru sebagai sebuah karakter yang pantas untuk di gugu dan di tiru maka wajib menampilkan suasana yang menyenangkan dalam aktifitas pembelajaran jarak jauh. Ditengah kondisi pandemic yang mencekam dan mengancam, guru mesti hadir sebagai sosok yang meneduhkan bagi para siswa, sosok yang memotivasi untuk tetap belajar dan beradaptasi, serta memberi solusi ditengah situasi tak terkendali.

Kegiatan belajar yang menyenangkan bukan lahir dari metode atau Teknik mengajar, akan tetapi lahir dari kondisi psikologis. Maka jangan berharap terselenggara kegiatan belajar yang menyenangkan, jika pendidik masih saja mengeluh terhadap berbagai kebijakan pemerintah, masih tidak ikhlas dengan pembelajaran jarak jauh, masih menggerutu dengan akses internet yang loading dan kendala-kendala lainnya. Para peserta didik akan merasakan aura itu, akhirnya lahirlah sebuah kegiatan pembelajaran yang monoton, lemah dan tidak menyenangkan.

  • Visioner

Rasa-rasanya kita sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi di tahun 2045 nanti. Secara ilmiah, banyak penelitian yang menggambarkan tuntutan skill dan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan. Ini mestinya menjadi modal dalam Menyusun kegiatan belajar para pendidik. Jika seperti itu, maka kondisi lainnya yang tidak kalah menentukan adalah persepsi dari pendidik.

Mulai dari saat ini, pendidik harus mulai melepas ego-nya dan mulai beradaptasi dengan tuntutan zaman. Mestinya kita sudah tidak lagi mendengar pendidik yang mengajar hanya dengan metode ceramah, manyalin ulang buku dan metode lain yang tidak mengembangkan kompetensi konstektual untuk masa depan.

Ali Ra. Pernah berpesan pada kita untuk mendidik putra dan putri kita berdasarkan kondisi yang akan mereka hadapi di masa depan, bukan kondisi yang pernah kita lewati di masa lalu. Apalagi Pendidikan bukan lagi proses perpindahan ilmu pengetahuan saja, yang dimana kalau kita bersaing dengan google, para pendidik sudah pasti kalah telak. Pendidikan adalah proses pembinaan karakter, dan pada akhirnya hanya yang berkarakter terbinalah yang mampu memaksimalkan segala potensinya kelak.

Judul artikel ini sebenarnya mengutip dari dialog Buzz, salah satu karakter dari film Toy Story. Pendidikan harus sudah mulai berfikir untuk melampaui batas-batas yang ada, menghilangkan paradigma kuno yang pada akhirnya membatasi perkembangan manusia nya itu sendiri. Tapi tidak cukup sampai disana, tidak cukup hanya sekedar keluar dari batas-batas, tapi pendidikan juga harus berani untuk melampaui jauh untuk masa depan yang lebih cerah. Pandemik sepertinya adalah cara yang Allah berikan kepada kita untuk mulai sadar terhadap hal ini.

Refleksi

Menutup artikel ini, saya teringat sebuah video yang sempat viral, dimana sekelompok siswa SMA mengeluh di kementerian Pendidikan. Apa yang mereka keluhkan ? yang mereka keluhkan adalah kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh yang menyusahkan. “Ada teman saya yang abis absen, dia tidur lagi pak..” demikian yang disampaikan oleh siswa tersebut. Dalam hal ini siapa yang salah ? mohon maaf, dengan segala kerendahan hati, rasanya kitalah sebagai pendidik yang mesti mengevaluasi diri.

Hal ini pula pernah saya rasakan langsung, Ketika PJJ berlangsung, baru berapa menit setelah absen, seorang siswa membuat status kalau dia sedang main Mobile Legend. Kecewa dan merasa gagal ? iya, tapi alih-alih menyalahkan siswa, saya lebih memilih untuk mengevaluasi kegiatan belajar yang saya bangun. Pertemuan berikutnya, saya merancang sebuah kegiatan belajar yang interaktif dan membuat kegiatan yang bisa membuat para peserta didik fokus setidaknya dalam beberapa jam pertemuan.

Beda lagi dengan keponakan saya yang baru menginjak kelas 2 SD, ketika sekolah dilarang menyelenggarakan kegiatan tatap muka, kreatifnya sang guru memanfaatkan waktu yang ada untuk mengumpulkan sekelompok siswa yang berdekatan rumahnya. Akhirnya sepekan sekali sejumlah peserta didik dalam zona RW yang sama berkumpul dan berkeliling antar rumah temannya. Disini pada akhirnya terjadi pembelajaran bagaimana adab, sopan santun, sambil tetap melaksanakan pembelajaran sederhana yang menyenangkan. Keponakan saya tadi begitu semangat dan antusias mengikuti kegiatan belajar,

“Sekolahnya asyik, dirumah temen banyak makanan..”


Tinggalkan Balasan