0%
Posted inCatatan Refleksi

Corona dan Uji Eksistensi Kita

Corona sudah masuk kedalam level pandemik, telah menginveksi 200-an negara dengan ratusan ribu penderita, dan ratusan lainnya yang meninggal dalam hitungan hari bahkan jam. Indonesia adalah salah satu negara yang terkena dampak dari persebaran virus ini.

Negara sudah bergerak didukung dengan berbagai elemen dan lapisan masyarakat yang bersama-sama sudah menyadari pentingnya aksi segera dalam mencegah potensi persebaran virus ini. Tagar dirumah aja, banyak digaungkan sebagai bentuk kontribusi positif dalam kondisi yang genting seperti saat ini.

Tapi pertanyaannya apakah itu cukup ? saya teringat dengan sebuah hadist yang mengatakan jika terjadi sebuah kemungkaran, maka hendaklah rubah keadaan itu oleh tangannya, lisannya atau paling tidak, sekedar hati yang meyakini dan menolak kemungkaran itu terjadi. Secara tekstual, hadist ini memang tidak sesuai dengan kondisi realita, akan tetapi, secara konteks saya rasa hadist ini adalah gambaran umum sebuah eksistensi dalam setiap kondisi.

Sejujurnya, catatan ini terilhami oleh tayangan Indonesia Lawyer Club pada tanggal 24 Maret 2020 silam. Tayangan ILC bertajuk Simalakama ini, menghadirkan seorang tokoh yang sangat inspriatif, yaitu dokter Tirta. Keberadaannya ditengah pandemik Corona ini seperti sebuah solusi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, dimana beliau menggerakan setidaknya 5 program nyata yang langsung menyentuh lapisan terdepan pejuang pandemik corona.

Lima lapisan terdepan pejuang yang dimaksud dr. Tirta adalah,

  1. Dokter dan tenaga Kesehatan
  2. TNI dan Polri
  3. Karyawan atau mitra usaha berpenghasilan harian
  4. Karyawan fasilitas publik vital (PLN, Telkom, dan yang lainnya)
  5. Office Boy, keamanan dan yang sejenisnya

Kelima lapisan ini memiliki peran penting yang saling menunjang dalam perlawanan menghadapi Corona.

Masalahnya adalah, terkadang 3 lapisan terbawah ini seringkali dianggap sebelah mata atau bahkan dihujat dengan tudingan membiarkan resiko penularan semakin meluas. Padahal keberadaan mereka yang sangat vital justru termasuk sebagai garda perjuangan yang tidak kalah penting.

Penjelasan dr. Tirta ini mengingatkan saya terkait hadist yang disebutkan diatas. Tentu kita tidak bisa serta merta menyalahkan pemerintah atas berbagai kebijakan yang diterbitkannya.

Dalam kesempatan yang sama, seorang aktivis yang juga pengamat sosial Haris Azhar mengkritik peran pemerintah dalam penanganan virus yang juga disebut Covid-19 ini. Ini pula pentingnya keberadaan, pemerintah dan berbagai pengawasnya yang mesti hadir dalam bentuk kebijakan, keputusan, atau bahkan tindakan yang memaksa. Tidak bisa pemerintah hadir dalam kondisi setara dengan masyarakat atau bahkan setara dengan dr. Tirta sekalipun. Pemerintah harusnya bisa berbuat lebih.

Tidak luput juga dijelaskan peran influencer untuk mensosialisasikan berbagai hal yang bisa menjadi solusi dalam kondisi seperti ini, mulai dari hal yang sederhana seperti anjuran berdiam di rumah, atau mengajak donasi kemanusiaan sebagai bentuk dukungan.

Saya harap pembaca bisa menangkap apa kaitan hadist yang disebutkan diatas dengan kondisi sekarang. Berbagai peran tersedia, berbagai eksistensi tersedia, dalam kondisi seperti ini kita tidak bisa memilih satu peran tanpa mempertimbangkan segala resikonya. Saya mengajak kepada semua untuk setidaknya berdiam dirumah selama pandemik ini terjadi. Bagi yang memiliki kemampuan lebih, silahkan kita berjuang dengan segala potensi yang ada, dan dengan resiko seminimal-minimalnya.

Tambahan :

Saya tidak berafiliasi dengan gerakan apapun atau dengan pandangan politik apapun (untuk pandangan politik bisa dilihat di halaman politik). Pernyataan dan dukungan saya semata dikarenakan ada kesamaan pandangan saja.


Tinggalkan Balasan