0%
Posted inRefleksi

Informatika : realita dan kontroversinya

Di penghujung masa kerja menteri pendidikan periode 2014-2019, Muhajir Effendi menetapkan kembali hadirnya pelajaran komputer yang sebelumnya di kurikulum 2006 bernama TIK, kali ini di kurikulum 2013 hadir dengan kemasan baru bernama informatika.

Tantangan dan tuntutan jaman memang mau tidak mau menjadikan komputer sebagai kebutuhan hidup, meski tidak termasuk kedalam kebutuhan primer tapi bagi lapisan masyarakat tertentu, komputer menjadi bagian hiduo yang tidak bisa dipisahkan. Baik dikarenakan pemanfaatan komputer untuk bekerja, atau sekedar mengisi waktu luang dengan berbagai fasilitas hiburan yang dimilikinya.

Begitupun di dunia pendidikan, penerapan media belajar yang lebih interaktif bisa menggunakan komputer sebagai fasilitas tambahan didalam kelas. Layanan ini tentu membutuhkan pengajar yang mahir dan peserta didik yang paham dalam penggunaannya.

Meski demikian, pelajaran bernuansa komputer ini masih tidak lepas dengan berbagai kontroversi yang mengiringinya. Jika kita urai, kontroversi ini diantaranya,

  1. Persaingan dengan Prakarya

Prakarya adalah mata pelajaran baru di kurikulum 2013 sebagai pengganti TIK yang dirasa sudah ketinggalan zaman. Ya, saya pun sebagai pengajar TIK merasa aneh ketika materi yang diajarkan berbasis komputer era tahun 2000-an. Hadirnya prakarya pun sebenarnya, menjadi nafas baru di dunia pendidikan, karena prakarya hadir linieritas guru yang sangat banyak (bahkan terbanyak dibanding mapel lain) sehingga membuka kesempatan mengajar bagi siapapun. disisi lain, guru-guru yang berlinier dengan TIK, hanya memiliki 2 pilihan, beradaptasi dengan prakarya, atau menjalankan amanah lain sebagai B-TIK.

Kini hadirnya kembali informatika, menjadikan persaingan kembali hidup, entah bagaimana membacanya, yang jelas salah satu dari dua mata pelajaran ini harus dipilih. Permasalahan semakin kompleks ketika ternyata, yang dipersyaratkan sebagai pengajar Informatika tidak sebebas persyaratan pengajar prakarya. Artinya jika sebelumnya pengajar prakarya memiliki linieritas selain bidang komputer, maka hal ini menjadi dilema tersendiri bagi sekolah tersebut.

2. Fasilitas dan media belajar

Saya termasuk pengajar TIK yang keberatan dengan materi TIK, sampai saya berfikir jika guru TIK ini kok kayak sales nya microsoft aja. Kita tidak menutup mata, jika microsoft memang adalah penguasa komputer saat ini. Dengan hadirnya kembali informatika, yang sebagian materinya adalah tentang pembuatan aplikasi secara mandiri, tentu ini menjadi harapan baru untuk melepaskan diri dari kebiasaan menggunakan aplikasi bajakan.

Akan tetapi, hal ini pun akan menuntut sekolah untuk menyediakan fasilitas dan media belajar yang benar-benar mumpuni. Mulai dari sarana prasarana, pengajar yang linier dan menguasai materi, serta perangkat-perangkat tambahan lainnya. Maka wajar jika pemerintah dalam tahap awal ini berhati-hati menunjuk sekolah mana saja yang berhak mengajarkan mata pelajaran informatika ini.

Informatika menjadi mata pelajaran solutif dan aplikatif di tengah proses transformasi digital

3. Target dan sasaran belajar

Penggunaan Gadget, Komputer dan multimedia digital, sekarang ini menjadi hal yang seakan-akan tidak terpisahkan dari kehidupan. Untuk menjaga keseimbangan dari efek yang diakibatkan oleh fenomena tersebut, butuh perhatian yang serius dari berbagai pihak, seperti regulasi dari pemerintah, kedewasaan dari pengguna, bimbingan dari orang dewasa dan lain sebagainya.

Begitupun dunia pendidikan, “sepertinya” informatika adalah bentuk perhatian dari aspek pendidikan kepada peserta didik. Bagaimana pun juga, siswa siswi di sekolah adalah salah satu segmentasi pasar yang sangat menarik bagi dunia entertaiment digital, sehingga menjadikan mereka konsumtif. kehadiran informatika, setidaknya akan menghadirkan kegiatan penggunaan gadget, komputer dan konten digital yang lebih produktif. tapi apakah benar demikian ?

Tentu ini adalah tantangannya, bagaimana menjadikan gadget dan perangkat-perangkat komputasi menjadi lebih produktif ditangan anak-anak didik kita. Informatika butuh lebih sekedar materi ajar, yaitu pengajar yang senantiasa “belajar” kondisi dan perkembangan IT, fasilitas, dan kemampuan untuk mengemas semua itu agar menjadi lebih menyenangkan. Sebab, jika informatika gagal dalam menyampaikan tujuan dan sasarannya, maka ia malah akan menjerumuskan anak didik kita ke dunia digital yang kelam.

Setidaknya itu beberapa hal yang sepintas terpikirkan. Mudah-mudahan Mata Pelajaran Informatika ini menjadi mata pelajaran yang powerfull guna menghadapi masa depan yang dinamis, modern, cepat dan millenial.


Tinggalkan Balasan